Sabtu, 06 Agustus 2011

MENGAPA HAL-HAL YANG BURUK TERJADI PADA ORANG YANG BAIK??


Suatu ketika saya mendapati sebuah pertanyaan dari salah satu teman saya sebagai berikut. “KatanyaTuhan itu Mahakuasa, MahaTahu..lantas kalau Dia sudah tau orang itu bakal masuk neraka, mengapa Tuhan masih menciptakan orang itu??”..”Katanya Tuhan itu baik, mengapa masih ada orang yang masuk neraka, katanya Tuhan itu baik??”
Wow..ketika saya mendengar pertanyaan ini, jujur saat itu saya merasa bingung untuk menjawabnya..dalam hati saya berkata, “apa yang harus saya katakan Tuhan?” Saya terus bergumul dan meminta hikmat dari Tuhan, namun saya sulit untuk mendapatkan jawaban itu. Sampai suatu ketika Tuhan menunjukan kepada saya sebuah buku, dimana saya pun mendapatkannya secara tidak sengaja di sebuah pameran buku. Buku ini berjudul, “If  God is Good, why is the world so bad”..Jika Tuhan Baik mengapa Dunia ini begitu buruk. Buku ini sungguh menarik perhatian saya untuk membacanya. Dalam hati saya juga ikut bertanya, “Mengapa ya Tuhan , terkadang orang yang hidupnya baik, setia kepada Engkau, taat, tapi masih saja memiliki nasib yang buruk?”
Buku ini menjawab segala pertanyaan yang selama ini ada di benak saya. Alkitab memberikan kita sebuah contoh seorang pribadi yang begitu luar biasa menunjukan kesetiaanya kepada Tuhan, meskipun dia di timpa sedemikian rupa oleh berbagai macam persoalan yang tidak kecil, namun dia tetap menghormati dan tidak pernah goyah kesetiaannya terhadap Tuhan. Pribadi yang kita bahas ini adalah Ayub.
Kisah ini dimulai saat si setan meragukan kesetiaan Ayub, dan si setan ini berkata kepada Allah bahwa ibadah Ayub, kesetiaan Ayub selama ini semua semata-mata karena berkat-berkat Allah yang diberikan kepada Ayub. Kita tahu bahwa Ayub adalah seorang yang sehat, kaya raya, dan selalu bahagia, namun seandainya saja keberuntungan Ayub ini dibalik, apakah Ayuib masih setia kepada Allah?
Setan mengajukan usulan kepada Allah tentang hal ini, dan Allah pun mengijinkannya, Allah tahu kalau Ayub bukanlah pribadi yang demikian, dan Allah sangat percaya kepada Ayub.
          Saat itu juga Ayub jatuh miskin. Anak-anaknya mati. Ia di timpa penyakit yang sangat mengerikan, namun apa yang bisa kita lihat? Ayub tetap menunjukan kesetiaannya kepada Tuhan, Ayub menolak mengutuki Tuhan, bahkan Ayub masih bisa berkata “Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil, terpujilah nama Tuhan”. Sampai akhirnya Tuhan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Ayub, bahkan Tuhan menambah-nambahkanya berlipat kali ganda, hidup Ayub semakin diberkati.
          Cerita di atas bukan lah sebuah dongeng ataupun sesuatu hal yang direkayasa, cerita ini benar-benar terjadi saat itu. Dan kisah ini cukup menjelaskan kepada kita, “mengapa terkadang Tuhan menginjinkan orang baik memiliki nasib yang buruk?”. Sebenarnya jawabannya cukup simple. Tuhan hanya mau menguji kesetiaan kita. Memang di saat kita sedang mendapatkan berkat, kita bisa dengan mudah berkata, “Puji Tuhan, Tuhan memang luar biasa, kami bangga memiliki Allah seperti Engku?”, namun di saat kita mengalami cobaan yang begitu besar, seperti cobaan yang Ayub rasakan, apakah kita masih bisa berkata demikian???
Kisah Ayub ini bukanlah sebuah kisah yang hanya terjadi pada waktu itu saja, namun sebenarnya kisah Ayub ini terus berlangsung hingga saat ini, banyak orang-orang yang memiliki nasib seperti Ayub, dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya jatuh, dan menggadaikan kesetiaannya dengan sesuatu hal yang mereka anggap lebih berharga. Saya berani katakan, bila ada orang seperti itu, mereka sama halnya orang-orang yang bodoh, yang mau menukar emas dengan sebuah batu.
          Banyak komentar yang muncul terhadap kisah ini, tidak sedikit dari mereka yang berkata, “Apakah Tuhan itu Adil?”. Saya dengan tegas berani mengatakan YA!
Di dalam injil Yohanes 1 : 4, di sana di sebutkan bahwa “Allah kita adalah Allah yang setia, namun Dia juga Allah yang ADIL”. Memang benar, Allah kita adalah Allah yang begitu setia, Dia Allah yang sungguh baik buat setiap kita, namun ada satu hal yang perlu kita garis bawahi, Dia juga Allah yang adil. Jadi kita tidak bisa berbuat seenaknya dihadapan Allah, segala yang kita lakukan akan kita pertanggung jawabkan di hadapan-Nya, masih ingkahkah kita pada hukum tabur tuai? Tuhan kita pernah mengajar kepada kita tentang hukum tabur tuai, apa yang kamu tabur itulah yang akan kamu tuai, jika kamu menabur benih-benih kejahatan ,maka kamu juga akan menuai buah-buah kejahatan pula, begitupun sebaliknya.
“Namun bagaimana dengan Ayub?? Kalau Tuhan itu adil, mengapa Dia membiarkan Ayub menderita? ”
Allah yang kita sembah adalah Allah yang sangat adil, Allah kita tahu apa yang seharusnya Dia perbuat, dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rancangan Allah adalah rancangan yang membawa kebaikan, jadi kita tidak perlu kuatir tentang apa yang sedang kita alami saat ini, kita yakini bahwa sesungguhnya Allah mempunyai sebuah rancangan yang teindah buat setiap kita, meskipun jalan Tuhan sangat sulit untuk kita pahami. Begitupun dengan Ayub, Allah mempunyai rancangan yang indah buat Ayub, meskipun secara manusia kita sulit untuk memahaminya. Bahkan saya pernah mendengar sebuah statement yang bagi saya itu aneh, begini isinya. “Orang belum dikatakan kristen, kalu orang itu belum Gila”. Ketika anda mendengarkan hal ini, anda merasa aneh bukan??. Namun setelah kita renungkan, kata-kata ini memang benar, terkadang kita sebagai orang percaya, kita meminta sesuatu hal kepada Allah kita, yang bagi kita itu adalah hal yang mustahil, yang mungkin jika orang lain mendengarnya, orang itu juga akan mengatakan bahwa orang Kristen itu gila, masa meminta hal-hal yang mustahil. Tetapi kita harus mengingat bahwa Nothing’s Imposible for God, tidak ada satu hal pun yang mustahil bagi Allah kita. Dia Allah yang sanggup melakukan apapun .
         


Kembali lagi pada pertanyaan awal, “KatanyaTuhan itu Mahakuasa, MahaTahu..lantas kalau Dia sudah tau orang itu bakal masuk neraka, mengapa Tuhan masih menciptakan orang itu??”..”Katanya Tuhan itu baik, mengapa masih ada orang yang masuk neraka, katanya Tuhan itu baik??”
Sebenarnya Tuhan sudah memberikan kepada kita sebuah tiket perjalanan ke Surga, sekarang kembali lagi kepada kitanya, apakah kita mau menggunakan tiket itu, apa kita mau membuangnya begitu saja?
Hal ini sama saja ibarat kita di perhadapkan pada 2 pilihan makanan, yang satu adalah makanan yang begitu enak, dan yang satu adalah makanan yang sudah basi, dan kedua makanan ini telah di bayar dengan lunas oleh bos kita, sekarang kita tinggal di suruh memilih, makanan mana yang akan kita makan??
Jadi itu semua tergantung oleh kita, Tuhan sudah memberikan 2 pilihan kepada kita yang begitu jelas, dan Tuhan juga sudah membekali kita sebuah akal budi dan hikmat untuk memilih itu semua, apakah kita adalah salah satu orang yang bodoh, atau kita adalah salah satu dari orang orang yang pintar??
          Pertanyaan semacam itu sebenarnya adalah tipe-tipe pertanyaan yang menjebak kita, sama hal nya dengan pertanyaan seperti ini, “Kalau Tuhan itu berkuasa, bisa gak Tuhan memnciptakan sebuah batu yang Dia sendiri tidak bias mengangkatnya?”. Jika anda menemukan pertanyaan semacam ini, respon apa yang akan anda sampaikan???
          Pada buku ini juga ada sebuah pertanyaan seperti ini, “Mengapa harus ada kehidupan kalau semuanya sudah di tentukan dari awal??”
Petanyaan ini mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca, buku ini berjudul “ The Purpose Driven Life” , buku ini menjelaskan, “Buat apa sih kita hidup di dunia ini?”. Dari berpuluh-puluh halaman yang telah saya baca, ternyata jawabannya begitu simple. Sebenarnya Tuhan memberikan kita sebuah kehidupan hanya satu tujuan, yaitu menyenangkan hatinya, itu tox dan gak ada alasan lain!! 
Hal ini sama saja ibarat kita menciptakan sebuah barang, kiara-kira buat apa sih barang yang telah kita buat itu?? Otomatis barang itu untuk menyenangkan perasaan kita, dan barang itu kita gunakan untuk membantu pekerjaan kita, sama hal nya dengan Tuhan, Tuhan menciptakan kita bukanlah tanpa tujuan, kita diciptakannya untuk menjadi alat-Nya di dunia ini.
          Saya sering merenungkan mengapa ya orang yang hidupnya taat, tapi hidupnya tidak bisa lebih dari mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus?. Ketika saya terus merenungkan hal ini, saya seolah-olah mendapatkan sebuah jawaban. Saya merasa bahwa yang membedakan keduanya itu sebenarnya bukan masalah materi yang mereka dapat saat itu, sebenarnya yang membedakan mereka itu adalah sebuah kedamaian yang mereka rasakan saat itu, saya banyak melihat orang-orang yang taat hidupnya selalu di penuhi dengan kedamainan, meskipun secara materi di dunia shidupnya pas-pas an, namun ada sesuatu hal lebih yang mereka dapatkan yang mungkin orang lain tidak merasakannya.
Dan ada satu hal lagi yang membedakan keduanya yaitu sebuah harta yang sunguh tak ternilai harganya, harta itu ialah sebuah rumah yang kekal yang telah Tuhan kita sediakan di Surga, sebenarnya cuma itu, saya mau katakan kepada semua, bahwa kehidupan kita di bumi hanyalah sementar, kita mempunyai kehidupan yang abadi di sana, di rumah Bapa kita.